Perkembangan E-Commerce Khususnya Electronik di Indonesia

Indonesia sedang diberkahi peningkatan kelas menengah. Sejalan dengan itu, pertumbuhan penjualan barang elektronik mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Menurut data dari Economist Intelligence Unit, pertumbuhan E-commerce untuk produk elektronik dan rumah tangga Indonesia mengalami pertumbuhan 9,8 persen pada 2015. Angka pertumbuhan tersebut terus meningkat menjadi 9,7 persen (2014), 9,3 dari persen (2013). Pertumbuhan diperkirakan menembus 10,2 persen pada 2018. Secara keseluruhan total y\ang didapat untuk elektronik saja pangsa pasar Indonesia mencapai Rp43 triliun pada 2015.

Berdasarkan hasil riset yang didapatkan oleh kelompok kami , terdapat 3 e-commerce yang berada dalam bidang electronic , memiliki Brand Image yang tinggi dan tentu sudah terdaftar dalam e-commerce bidang alat electronic di Indonesia. Hasil riset pasar yang kami daftar, kami rangkup sebagai berikut:

Electronik-City.com

Electronic Solution

(www.es.id)

Bhinneka.com

Target Pasar

SES A dan B

SES A dan B

SES A dan B

Visitor perBulan

92

3.900

Pengikut di Instagram

9422 Followers

4302 Followers

14.300 Followers

Rata-rata penghasilan per Tahun

2,01 triliun ( 2013)

1,78 triliun (2015)

1,66 triliun

(2016)

2,1 triliun

(2013)

600 milyar

(2013)

Outlet offline

41 Outlet

50 Outlet

6

Source: https://iprice.co.id/insights/mapofecommerce/

DBS Group Research dalam laporannya e-commerce In Asia Bracing for Digital Disruption menyebutkan ada tiga hal yang menyebabkan belanja online di Asia Tenggara masih rendah, dibandingkan dengan Tiongkok dan AS.

  1. Karena konsumen kurang percaya terhadap mekanisme pembayaran. Di Asia Tenggara, hanya 10 persen dari populasinya memiliki kartu kredit. Dari jumlah itu, hanya sedikit yang menggunakannya untuk belanja online. Mereka khawatir ditipu ketika melakukan transaksi melalui kartu kredit. Sebagian konsumen lebih memilih cash–on¬-delivery. Namun mekanisme ini memunculkan kerumitan dalam proses pengiriman.

  2. Pengiriman. Selain Singapura, jaringan pengiriman barang di negara-negara Asia Tenggara masih belum memadai. Jasa pengiriman pos sering tidak bisa diandalkan . Selain itu, jasa pengiriman logistik juga belum siap menangani paket kecil dengan volume tinggi.

  3. Marketing. Dibandingkan Tiongkok, penjualan online di ASEAN lebih rumit. Perbedaan budaya, bahasa dan peraturan membuat pelaku usaha online kesulitan menyesuaikan portal mereka sehingga bisa beroperasi di berbagai negara ASEAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *